Meskipun Hari Ibu sering kali identik dengan karangan bunga dan coklat, sebuah penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa apa yang sebenarnya didambakan para ibu tidak begitu nyata—dan lebih penting untuk kesejahteraan mereka.
Sebuah survei baru yang dilakukan oleh It’s a Family Thing (IAFT) dan dilakukan oleh Talker Research mengungkapkan kesenjangan yang mencolok antara pemberian hadiah tradisional dan kebutuhan aktual para ibu modern. Dengan mensurvei 2.000 ibu di Amerika yang memiliki anak di bawah 19 tahun, penelitian ini menyoroti meningkatnya krisis “beban mental” yang melampaui sekadar pekerjaan fisik.
Hirarki Kebutuhan Ibu
Ketika ditanya apa yang paling efektif untuk meringankan beban sehari-hari mereka, para ibu tidak menanyakan barang-barang materi. Sebaliknya, mereka memprioritaskan waktu dan otonomi. Survei ini mengidentifikasi kebutuhan primer berikut ini:
- Waktu Pribadi (42%): Prioritas utama adalah kesempatan untuk beristirahat dan memulihkan tenaga secara individu.
- Peningkatan Dukungan (40%): Keinginan untuk mendapatkan bantuan yang lebih aktif dari anggota keluarga lainnya.
- Pengurangan Kerja Kognitif (37%): Kebutuhan untuk berhenti menjadi “manajer” yang harus terus-menerus mengingatkan orang lain akan tanggung jawab mereka.
- Peningkatan Komunikasi (33%): Dialog yang lebih baik dalam unit keluarga.
- Akuntabilitas Anak (32%): Lebih banyak tindak lanjut dari anak-anak mengenai tugas mereka sendiri.
- Penurunan Tanggung Jawab (24%): Pengurangan umum dalam total volume pengelolaan rumah tangga.
Memahami “Beban Mental”
Untuk memahami hasil ini, seseorang harus membedakan antara pekerjaan fisik (seperti mencuci piring) dan beban mental (pekerjaan tak terlihat dalam perencanaan, pengorganisasian, dan mengingat). Beban mental tersebut melibatkan pengaturan tanggal bermain, perencanaan makan, pelacakan jadwal sekolah, dan pemantauan kesejahteraan emosional seluruh rumah tangga.
Data menunjukkan bahwa beban ini secara tidak proporsional ditanggung oleh perempuan:
– Sebuah studi pada tahun 2024 menemukan bahwa ibu menangani 71% tugas kognitif ini, dibandingkan dengan ayah yang hanya 45%.
– Ketidakseimbangan ini mempunyai konsekuensi yang signifikan: sekitar 43% wanita melaporkan merasa lelah secara emosional karena proses persalinan yang tidak terlihat ini.
Tren Generasi dan Dampak Hubungan
Survei ini juga menyoroti tekanan-tekanan spesifik yang dihadapi berbagai kelompok umur. Ibu-ibu milenial tampaknya merupakan kelompok yang paling mengalami stres, dengan 49% menyatakan diri mereka mengalami gangguan mental. Menariknya, baik ibu Milenial maupun Gen X mengidentifikasi “waktu pribadi” sebagai kebutuhan paling penting bagi mereka.
Kelelahan ini bukan hanya masalah pribadi; itu adalah hal yang relasional. Penelitian menunjukkan bahwa ketika perempuan merasa memiliki tanggung jawab yang tidak proporsional dalam mengurus rumah tangga, hal ini akan menimbulkan efek ganda:
1. Kesejahteraan Pribadi: Peningkatan risiko kelelahan dan kelelahan emosional.
2. Kepuasan Pernikahan: Ketegangan dalam kemitraan karena adanya kesenjangan yang dirasakan.
3. Perkembangan Anak: Potensi dampak terhadap kesejahteraan anak yang diasuh.
“Keluarga harus mulai membagi beban – idealnya secara merata – jika tidak, ibu akan semakin merasa kesal,” Priya Rajendra, CEO dan salah satu pendiri IAFT memperingatkan.
Kesimpulan
Temuan ini menunjukkan bahwa dukungan sejati bagi para ibu memerlukan perubahan lebih dari sekedar isyarat simbolis menuju redistribusi struktural pengelolaan rumah tangga. Agar keluarga bisa berkembang, pekerjaan tak kasat mata dalam “mengurus rumah tangga” harus diakui dan ditanggung bersama sebagai tanggung jawab bersama.
