Tiga remaja dan satu orang dewasa secara sukarela memutuskan sambungan media sosial selama tujuh hari, dan hasilnya sangat mengejutkan. Eksperimen tersebut, yang dirancang untuk menguji dampak detoks digital, mengungkapkan perubahan signifikan dalam suasana hati, fokus, dan manajemen waktu. Para peserta – seorang mahasiswa berusia 21 tahun, seorang siswa sekolah menengah berusia 17 tahun, dan seorang anak berusia 16 tahun – semuanya sepakat bahwa tidak menggunakan platform seperti TikTok, Snapchat, Instagram, dan YouTube dalam jangka waktu singkat akan memberikan manfaat positif. Temuan ini sejalan dengan penelitian yang berkembang yang menunjukkan bahwa penggunaan media sosial secara terus-menerus dapat memperburuk kecemasan, depresi, dan masalah tidur.
Pengaturan Eksperimen
Detox ini berlangsung pada tanggal 4 Januari hingga 11 Januari, bertepatan dengan dimulainya semester baru bagi salah satu peserta. Tujuannya bukan hanya untuk menjauhkan diri dari media sosial tetapi untuk memahami mengapa platform ini begitu mendominasi kehidupan sehari-hari. Peserta ingin menguji apakah mereka “kecanduan”, meningkatkan fokus, dan menghentikan kebiasaan kompulsif dalam memeriksa notifikasi.
Tantangan Pemutusan Hubungan
Kendala terbesarnya bukanlah kurangnya konten, namun dorongan otomatis untuk meraih telepon saat bosan. Seorang remaja menggambarkan dorongan tersebut sebagai “mulai menggulir Reels secara acak” hanya untuk menyadari di tengah-tengah bahwa Reels seharusnya melakukan detoksifikasi. Hal ini menunjukkan betapa dalamnya kebiasaan menggunakan media sosial telah tertanam kuat, bahkan bagi mereka yang menyadari dampak negatifnya.
Tantangan lain muncul dalam situasi sosial. Salah satu peserta yang kembali ke perguruan tinggi merasa canggung untuk tidak segera bertukar nama di media sosial dengan kenalan baru. Naluri untuk langsung terhubung secara online begitu kuat sehingga dapat menghambat interaksi di dunia nyata. Namun, hal ini juga menghasilkan percakapan tatap muka yang lebih bermakna, karena peserta memilih nomor telepon dan diskusi yang lebih mendalam.
Pergeseran Waktu Layar dan Perilaku
Menariknya, waktu pemakaian perangkat tidak serta merta berkurang untuk semua orang. Salah satu peserta melaporkan menghabiskan lebih banyak waktu di ponselnya, namun terlibat dalam aktivitas berbeda: mengirim pesan ke teman secara langsung alih-alih terus-menerus menggulir. Hal ini menunjukkan bahwa masalahnya bukan hanya pada waktu yang dihabiskan di perangkat, namun bagaimana waktu tersebut digunakan.
Semua peserta melihat adanya penurunan dalam perbandingan sosial. Tanpa aliran “highlight reels” yang dikurasi secara terus-menerus, tekanan mereka untuk membandingkan kehidupan mereka dengan orang lain akan berkurang. Seorang remaja merasa lebih mudah untuk merasa puas pada hari-hari buruk tanpa bertanya-tanya mengapa kehidupan mereka tidak sesempurna saat online.
Lingkaran Dopamin dan Pengurangan Stres
Eksperimen ini juga menyoroti sifat kecanduan media sosial. Salah satu peserta menggambarkan siklus pemeriksaan notifikasi sebagai “permainan catur”, di mana respons yang tertunda memicu penundaan pembalasan. Hal ini menggambarkan bagaimana platform mengeksploitasi sistem penghargaan otak, menciptakan ketergantungan pada validasi (suka, komentar, teks).
Menghapus siklus ini membawa kelegaan. Peserta melaporkan merasa lebih tenang, tidak terlalu kewalahan, dan lebih hadir dalam rutinitas sehari-hari. Seorang remaja dengan sengaja menggunakan waktu luangnya untuk membaca atau mengobrol dengan teman sekamar alih-alih menelusuri tanpa berpikir panjang.
Hal Penting dan Dampak Jangka Panjang
Detoks menekankan pentingnya intensionalitas. Peserta menyadari betapa seringnya mereka menggunakan media sosial karena kebiasaan dan bukan karena tujuan. Eksperimen ini mendorong mereka untuk memandang ponsel sebagai alat, bukan sebagai pengalih perhatian, dan secara sadar memilih aktivitas yang sejalan dengan nilai-nilai mereka.
Apakah mereka akan melakukannya lagi? Jawabannya adalah ya dengan suara bulat. Salah satu peserta melanjutkan pedoman detoks, sementara yang lain menyarankan tindakan yang lebih ketat (seperti penghapusan aplikasi sementara) untuk jeda di masa mendatang. Pengalaman tersebut menggarisbawahi bahwa bahkan pemutusan hubungan dalam jangka waktu singkat pun dapat bersifat transformatif, menawarkan kesempatan untuk mendapatkan kembali kendali atas perhatian, suasana hati, dan waktu.
Pada akhirnya, eksperimen ini menegaskan apa yang sudah diduga oleh banyak orang: berhenti menggunakan media sosial tidak hanya bermanfaat, tetapi juga merupakan kebutuhan untuk mendapatkan kembali agensi di dunia yang semakin digital.



















