Penelitian terbaru meragukan efektivitas puasa intermiten (IF) sebagai strategi penurunan berat badan. Tinjauan komprehensif terhadap 22 penelitian, yang melibatkan hampir 2.000 orang dewasa, menemukan tidak ada perbedaan signifikan dalam penurunan berat badan antara mereka yang mengikuti rejimen IF dan mereka yang menerima saran diet standar atau tidak ada program terstruktur sama sekali. Temuan ini sejalan dengan semakin banyaknya bukti yang mempertanyakan hype seputar makan dengan batasan waktu.
Penelitian Berbicara Sendiri
Analisis tersebut, yang diterbitkan dalam Cochrane Database of Systematic Review, meneliti berbagai metode IF, termasuk pendekatan 16:8 yang populer (puasa 16 jam, makan 8 jam). Peserta dilacak hingga satu tahun, namun hasilnya secara konsisten menunjukkan keuntungan penurunan berat badan yang dapat diabaikan bagi mereka yang berlatih IF.
Penelitian sebelumnya telah mencapai kesimpulan serupa. Sebuah studi tahun 2023 di Journal of American Heart Association tidak menemukan korelasi antara IF dan penurunan berat badan, sementara ulasan tahun 2024 di The BMJ menegaskan bahwa IF tidak lebih efektif dibandingkan pembatasan kalori tradisional. Temuan ini menunjukkan bahwa manfaat yang dirasakan IF mungkin dilebih-lebihkan.
Mengapa Puasa Intermiten Berjuang
Para ahli berpendapat bahwa kekakuan IF adalah hambatan utama menuju kesuksesan. Caroline Fox, ahli diet bariatrik klinis, menekankan bahwa waktu makan yang ketat sering kali berbenturan dengan isyarat lapar alami, sehingga membuat kepatuhan menjadi sulit. Jika seseorang makan berlebihan selama jendela makannya atau mengonsumsi kalori berlebih di malam hari, efektivitas IF akan berkurang dengan cepat.
Diane Rigassio Radler, salah satu penulis studi terbaru, mencatat bahwa sifat IF yang tidak fleksibel dapat mengganggu kebiasaan makan sosial, sehingga mengurangi kepatuhan. Inilah sebabnya mengapa tidak realistis bagi kebanyakan orang untuk mempertahankannya.
Apa yang Bermanfaat untuk Penurunan Berat Badan Berkelanjutan
Penelitian ini menyoroti kebenaran mendasar: penurunan berat badan bukan tentang kapan Anda makan, tetapi apa yang Anda makan dan berapa banyak.
Para ahli merekomendasikan pendekatan yang berpusat pada pasien, menyesuaikan rencana diet dengan gaya hidup dan preferensi individu. Pelacakan kalori, dikombinasikan dengan peningkatan asupan protein dan serat, tetap menjadi strategi yang terbukti. Mencatat konsumsi makanan, baik dalam jurnal atau aplikasi, membantu menciptakan kesadaran dan memfasilitasi penyesuaian yang tepat.
Pada akhirnya, penurunan berat badan yang berkelanjutan bergantung pada perubahan yang realistis dan berjangka panjang, dibandingkan mengandalkan tren yang membatasi. Jika Anda mengalami kesulitan, berkonsultasi dengan penyedia layanan kesehatan untuk mendapatkan panduan yang dipersonalisasi adalah langkah paling efektif.
Bukti terbaru menunjukkan bahwa puasa intermiten bukanlah obat ajaib untuk menurunkan berat badan. Diet yang sukses adalah tentang konsistensi, bukan waktu yang ketat.


















