Semakin banyak penelitian yang menunjukkan bahwa anak laki-laki semakin mengalami kesulitan dalam hal hubungan emosional, dan para ahli mengatakan bahwa orang tua dapat memainkan peran penting dalam membalikkan tren ini. Meskipun masyarakat sering memprioritaskan kemandirian dan prestasi dalam membesarkan anak, kurangnya hubungan yang mendalam menjadi masalah penting bagi perkembangan anak laki-laki. Psikolog perkembangan Niobe Way dan podcaster Carlos Whitaker baru-baru ini membahas “krisis koneksi” ini pada HARI INI, menekankan bahwa anak laki-laki mendambakan persahabatan yang bermakna, namun tekanan sosial sering kali mendorong mereka ke arah isolasi emosional.

Data Menunjukkan Anak Laki-Laki Tertinggal

Putusnya hubungan ini bukan hanya bersifat anekdot; hal ini tercermin dalam metrik utama. Anak perempuan kini mempunyai peluang lebih besar untuk lulus sekolah menengah atas tepat waktu, mempertahankan IPK lebih tinggi, dan jumlah pendaftaran perguruan tinggi melebihi laki-laki. Pada saat yang sama, partisipasi angkatan kerja laki-laki menurun sementara partisipasi perempuan meningkat. Pergeseran ini tidak mengurangi pentingnya mendukung kemajuan anak perempuan, namun menyoroti perlunya mengatasi tantangan unik yang dihadapi anak laki-laki.

Mengabaikan kebutuhan anak laki-laki dapat menimbulkan konsekuensi yang lebih luas. Seperti yang dikemukakan oleh seorang pengamat, Scott Galloway, kurangnya perkembangan emosional dan sosial pada laki-laki muda dapat memberikan beban yang tidak semestinya pada perempuan di sekitar mereka. Masyarakat yang fungsional memerlukan kedua jenis kelamin untuk bisa berkembang, dan ketika ada yang tertinggal, semua orang akan menderita.

Kehilangan Koneksi Seiring Waktu

Penelitian Way selama puluhan tahun menunjukkan bahwa anak laki-laki secara alami menginginkan persahabatan yang erat, terutama selama tahun-tahun pertumbuhan mereka. Anak laki-laki sering kali ekspresif secara emosional dan terbuka di lingkungan yang aman. Namun, seiring bertambahnya usia, ekspektasi masyarakat seputar maskulinitas dapat memaksa mereka untuk menekan kerentanan dan kedekatan emosional. “Soft skill” ini – empati, kecerdasan emosional, dan komunikasi terbuka – sering kali tidak dianjurkan, sehingga membuat banyak anak laki-laki tumbuh menjadi pria yang diam-diam mendambakan koneksi.

Kurangnya dukungan emosional bukan hanya masalah pribadi; itu mempengaruhi kesehatan mental, hubungan, dan kesuksesan di tempat kerja. Anak laki-laki yang tidak belajar mengendalikan emosi secara efektif mungkin mengalami kesulitan dalam semua aspek kehidupan.

Yang Dapat Dilakukan Orang Tua

Whitaker menekankan bahwa membesarkan anak laki-laki yang cerdas secara emosional bukanlah tentang menurunkan ekspektasi; ini tentang mengembangkannya. Orang tua dapat mendorong anak laki-laki untuk menganggap empati sebagai kekuatan, bukan kelemahan. Kuncinya adalah menghargai keterampilan “keras” (prestasi akademis, kesuksesan profesional) dan keterampilan “lunak” (ekspresi emosional, membangun hubungan).

Way menyarankan untuk memprioritaskan hubungan dengan membantu anak laki-laki membangun dan memelihara persahabatan, membicarakan perasaan, dan mengembangkan kecerdasan emosional. Masalahnya bukan karena anak laki-laki kurang emosi; hanya saja mereka sering kali tidak mempunyai izin untuk mengekspresikannya secara sehat. Dengan memupuk kerentanan dan keterbukaan emosional, orang tua dapat memberdayakan anak laki-laki untuk menghadapi dunia dengan ketahanan dan kepuasan yang lebih besar.

Pada akhirnya, mengatasi “krisis koneksi” memerlukan perubahan ekspektasi masyarakat. Dengan menghargai kecerdasan emosional dan metrik kesuksesan tradisional, orang tua dapat membantu anak laki-lakinya berkembang dalam segala bidang kehidupan.